SANANA, DADIKANUSANTARA.COM- Pasangan calon bupati dan wakil bupati kabupaten kepulauan Sula Fifian Adeningsi Mus dan Saleh Marasabessy (FAM-SAH) kini tampil lebih memukau di periode ke dua pilkada Sula.
Pesona FAM-SAH jilid 2 paslon nomor urut dua itu nampak jelas dalam penjabaran visi misi di debat kandidat nanti. Dengan tema besar ‘Sula Bahagia’, paslon incumbent ini akan mempertajam makna 7 nilai komitmen untuk Sula diantaranya (Bersih, Aman, Hebat, Adil, Giat, Inovatif dan Agamais).
Paslon ‘bikin romantis’ ini akan tetap komitmen memperjuangkan mewujudkan daerah otonomi baru di kepulauan Sula. “pemekaran itu harga mati untuk diperjuangkan, jangan lupa mendoakan agar moratorium segera di buka,” kalimat singkat ini disampaikan cabup FAM saat berbicara soal Mangoli Raya.
Tak hanya itu, FAM juga berkomitmen membangun secara merata baik ekonomi maupun infrastruktur tanpa perbedaan. “saya bukan pendendam, lihat bukti saya membangun, saya sayang semua masyarakat, banyak air mata yang saya tumpahkan dihadapan pihak terkait demi memperjuangkan kepentingan masyarakat diantaranya saya mendorong percepatan pembangunan jalan menuju Sulabesi Barat,” kata FAM
Bupati perpuan pertama di maluku utara itu mampu membangun dibawah tekanan keuangan yang memperihatinkan di masa pandemi, hanya 3 tahun 4 bulan memimpin. Bagaimana pesonanya jika 5 tahun sempurna waktu yang dimiliki untuk membangun.
Berbuat sebelum bicara, berkarya tanpa brisik itu menjadi ciri khas paslon FAM-SAH ini, bisa dilirik pada perhatiannya terhadap masyarakat Pohea kecamatan Sanana Utara yang mengeluh soal masjid dikampung mereka, ternyata diam-diam FAM-SAH sudah punya prospek kedepan yang baru diketahui saat masyarakat keluhkan kepadanya saat berkampanye.
“sudah saya upayakan, saya tidak pernah bilang tapi karena bapa ibu tanya ni saya kase tau, kalau saya sudah datangkan tim ahli bangunan untuk melihat bagaimana caranya menuntaskan masjid ini,” kata Fifian Adeningsi Mus.
Tak hanya d Sulabesi, di pulau Mangoli, keluhan warga kecamatan Mangoli Utara Timur juga mulai terpenuhi dengan dikerjakannya pembangunan jalan menuju desa Waisakai. “waisakai punya jalan juga sementara dalam proses pekerjaan dan insya Allah akan segera rampung, kalau saya pendendam kenapa harus respon cepat jalan menuju waisakai padahal saya kalah di sini dalam pilkada kemarin, ya karena saya benar-benar bekerja dengan hati apa yang bapa ibu rasa saya juga rasa,” tegas Fifian
Satu hal yang tak kalah menariknya lagi adalah soal puluhan imam di desa-desa diboyong ke tanah suci untuk ibadah umroh. Secara agama, ini merupakan senyum paling indah yang tertoreh di wajah masyarakat. “kami sangat bersyukur, karena tak pernah terbayangkan kalau orang seperti kami bisa datang ke Mekah tempat kebanggaan orang islam di seluruh dunia, kata Miswar Umasugi imam desa Waisakai.
Tak berhenti di situ, kemarin saat berkampanye ada juga orang-orang tua yang siap diberangkatkan ke tanah suci. “semua yang saya lakukan ini semata-mata karena ingin melihat masyarakat tersenyum, saya tidak mencari untung apa-apa, masyarakat senang saja sudah cukup bagi saya,” tutup Fifian Adeningsi Mus.
Di tangan FAM-SAH masyarakat merasakan kebahagiaan itu nyata adanya, “kami senang karena kami merasakan kebahagiaan itu,” tutup Mizwar (ilo)








