SULA, DADIKANUSANTARA.COM – Berkas sejarah perjuangan kemerdekaan tiga putra terbaik kabupaten Kepulauan Sula kini telah dimasukkan ke dinas Sosial untuk ditindaklanjuti dan diusul sebagai pahlawan nasional.
Tiga putra terbaik itu adalah Bpk. Mala Bin Tena, Abdurrahim Mala dan Saadola Mala. diketahui ketiganya berasal dari desa Fat Iba kecamatan Sanana (Sekarang Kecamatan Sulabesi Tengah).
Kebenaran ini diterangkan dalam dokumen-dokumen yang dikirim pemerintah kabupaten Maluku Utara melalui Kantor Departemen Sosial pada tahun 1999 tertanggal 20 juli 1999, dengan tujuan meminta kepala desa Fat Iba mengeluarkan surat keterangan atas ketiga warga tersebut dengan nomor surat : 233/K/UKS/3/VII/99.
“Sebagai keluarga, kami hanya melanjutkan upaya pemerintah kecamatan Sanana dan pemerintah kabupaten Maluku Utara melalui departemen sosial pada 27 tahun lalu, terhitung dari tahun 1999- sekarang,” kata Maulana Usia, selaku Keluarga tokoh pergerakan kemerdekaan yang terlupakan itu.
Terpisah kepala dinas Sosial kabupaten Kepulauan Sula Rifai Haitami membenarkan, pihaknya telah menerima dokumen sejarah terkait 3 putra terbaik Sula yang ternyata juga telah terlibat sebagai aktor dalam pergerakan kemerdekaan republik Indonesia dan diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke beberapa titik, termasuk Boven Digoel.
“Kami telah menerima berkas Sejarah perjuangan 3 tokoh dari Sula, dan akan kami terimuskan ke dinas Sosial provinsi untuk diperiksa, jika ada data yang dibutuhkan, kami juga akan berupaya untuk melengkapi melalui informasi dari pihak-pihak tertentu,” kata Kadis Sosial Rivai Haitami.
Singkat cerita, ketiga putra terbaik ini adalah saudara, mereka diketahui telah mengikuti organisasi yang dibentuk untuk memperjuangkan kemerdekaan negara republik Indonesia pada tahun 1926. Informasi tersebut sampai ke telinga pemerintah kolonial Hindia-Belanda langsung memerintahkan ketiganya ditangkap dan diasingkan di titik yang berbeda, yaitu Banda Neira, Manokwari dan di Boven Digoel bersama Moh. Hatta.
Mereka juga dianugerahi penghargaan oleh pemerintah Hindia Belanda dan Jepang serta Lencana Bintang Gerilya dan buku riwayat perjuangan mereka.
Selengkapnya bisa dibaca pada artikel selanjutnya tentang, Tiga Pahlawan Dari Sula Yang Terlupakan. (Ilo/red)








