banner 728x90
banner 728x90
Opini

Independensi Perguruan Tinggi dan Politik Praktis

949
×

Independensi Perguruan Tinggi dan Politik Praktis

Sebarkan artikel ini

Oleh : Rifki Leko

Pimpinan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Kepulauan Sula 

banner 728x90

DADIKANUSANTARA – Berbagai rentetan Persoalan  saat ini itulah yang kemudian menjadikan tanjung jawab perguruan tinggi, maka harus disterilkan dari politik praktis. Adanya pembelahan masyarakat tidak  sesuai kepentingan yang diusung serta adanya cedera janji dan politik yang bernuansa partisan menjadikan institusi penting dalam kehidupan bangsa ini harus dilindungi.

Oleh nya itu Perguruan tinggi dalam kedudukannya seharusnya lebih mengutamakan aktivitas tri dharmanya, yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Di dalam pelaksanaan tri dharma itu perguruan tinggi harus melakukan aksi-aksi ilmiah, kerja-kerja akademik, dan juga hasil-hasil pemikiran yang dapat digunakan serta dinikmati oleh rakyat. Pandangan-pandangan moral dan arahan untuk kebaikan penyelenggaraan negara dan kesejahteraan rakyatlah yang justru ditunggu oleh mereka. Bukan aksi dukung mendukung seperti dalam politik praktis yang saat mempengaruhi seluruh mahasiswa sampai masyarakat kelas bawah dan anak anak  pemili pemula.

Arahan perguruan tinggi tetap dibutuhkan. Pemikiran obyektif untuk bangsa dan proses politik yang sedang berjalan juga senantiasa ditunggu. Inilah sesungguhnya gerakan politik ala kampus. Bukan politik praktis, namun politik ilmiah dan politik moral kebangsaan.

Perguruan tinggi saat ini masih relatif dianggap sebagai institusi dalam negara yang mempunyai kewibawaan degan independensi dan elektabilitas yang tinggi.  Sehingga Masih dianggap obyektif. Kerap pula dihormati, karena begitu  banyak tokoh-tokoh ilmuwan yang negarawan. Wajar, bila dalam lowongan untuk jabatan-jabatan penting dalam lembaga negara, ada tempat atau porsi khusus untuk ditempati kalangan akademisi kampus.

Sehingga apabila perguruan tinggi terlalu masuk dalam politik praktis, dikhawatirkan independensinya terganggu, kepercayaan masyarakat berkurang, serta kredibilitas perguruan tinggi akan dipertaruhkan. Apalagi bila yang didukung perguruan tinggi tersebut kemudian hari  melakukan tindakan tercela, semisal korupsi, ingkar janji, dan penyalahgunaan kekuasaan lainnya

Sehingga menjadi wacana liar terkait permasalahan yang terjadi maka kampus lah yang menjadi sasaran untuk di nilai elektabilitas orang ada di dalam nya patut di pertanyakan kemampuan nya.

Walaupun kampus harus steril dari politik praktis, namun kampus tetap punya tanggungjawab juga untuk pendidikan politik rakyat / civic education. Kampus justru harus menjadi bagian terdepan dalam mendidik masyarakat melek politik, selain itu kampus juga harus menjadi pengawal jalannya demokratisasi agar supaya tidak melenceng dari tujuannya yang hakiki yang mewujudkan kedaulatan rakyat sepenuhnya untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan sosial seluas-luasnya sesuai degan nilai Pancasila yang ke lima,Lebih daripada itu, kampus bahkan harus mengawal teknik prosedural demokratisasi ini, misalnya dengan melakukan pemantauan pemilu melalui forum rektor.

Insan kampus sudah seharusnya menjadi teladan berdemokrasi. Insan kampus hendaknya menjadi contoh ideal bagaimana beretika dalam event politik. Demikian pula, bagi mereka akademisi yang mencalonkan diri, sejak terdaftar dalam Daftar Calon Tetap (DCT) anda sudah mulai disoroti masyarakat. Maka hati-hatilah bertindak dan bersikap, jangan bawa kampus untuk kepentingan praktis semata. Merdeka.

GMNI jaya Marhaen menang.

Pejuang pemikir pemikir pejuang.

Merdeka.

GMNI jaya Marhaen menang

Pejuang pemikir pemikir pejuang.

banner 728x90banner 728x90banner 728x90banner 728x90banner 728x90
banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90