Oleh : Rifki Leko
Alumni STAI Babussalam Sula Maluku Utara
DADIKANUSANTARA.com – Tidak mungkin ada Bandai tak ada angin’
Tak ada malam tak ada bintang,Datangnya gelap hilang cahay, Tak ada asap jika tak ada api, kata pepatah lama, barisan kata kata ini lahir tentunya bukan tanpa sebab. Sesuai hukum alam, Karl Maxs mengatakan ada aksi ada reaksi. Muncullah Tulisan ini karna lahir atas kondisi hari ini. Gerakan Mahasisw a kabupaten Kepulauan Sula yang kian hari kian menunjukkan kehilangan geliatnya.
Suda memulai tenggelamnya Gerakan Mahasiswa semakin jelas terlihat. Bukan sebuha gurauan jika setahun atau dua tahun lagi tak ada pengguna almamater dari berbagai warna turun aksi di jalanan, untuk sebuah alasan, yaitu nuraninya terusik.
Karena kegelisahan saya atas kondisi hari ini, maka lahirlah sebuah barisan kata kata lewati pangilan hati dan pikiran saya, yang sangat membosankan dan sangat tidak mengusik hati kita semua hari ini.
Sebuah diskursus, Revolusi” sering menjadi cerita “Pengantar Tidur setelah habis segelas kopi di atas meja oleh kawan-kawan yang mengaku dirinya Revolusioner, padahal ada sebuah Soft skil jika budaya Mahasiswa yaitu membaca, menulis dan diskusi kini mulai ditinggalkan sebagai cerita lama,
Seakan-akan Revolusi adalah sebuah usaha mengeringkan air laut, apa mungkin permintaan sang proklamator cuman 10 orang pemuda sehingga tidak mencukupi untuk menciptakan revolusi “Utopis kata sebagian orang. Maka tak heran jika kemudian hasil kajian Revolusi tak ubahnya seperti obrolan para pemain catur di warung kopi. Kegiatan semacam itu tentu tak bisa berharap Banyak.
Maka dari itulah saya mencoba mensintesa gagasan-gagasan Revolusi yang sering dikaji oleh kawan-kawan Mahasiswa,
Sebagai kekuatan besar, gerakan mahasiswa masih memiliki legitimasi moral dari masyarakat. Namun, walaupun harapan tinggi dari masyarakat masih dibebankan ke pundak mahasiswa, saat ini gerakan mahasiswa cenderung menurun. Mahasiswa seakan-akan tak memiliki progresivitas dan sensitivitas dalam menanggapi berbagai persoalan real yang telah terjadi di bangsa ini.
Hal ini sangat tampak jika kita melihat ruang-ruang diskusi mahasiswa yang tak lagi diramaikan pembicaraan tentang problematika umat. Jika dahulu keterbatasan media malah membuat para aktivis kampus makin kreatif dan kritis, saat ini berbanding terbalik. Banyak gerakan mahasiswa terjebak berbagai kepentingan pribadi dan golongan.
Itulah mahasiswa hari ini, kita/pun mereka semua telah terjebak dengan kebiasaan politik praktis sehingga mendahulukan egonya demi menjaga eksistensi organisasinya. Kita dan mereka telah mengagung-agungkan simbol kebesaran organisasi masing-masing dan sibuk memperdebatkan perbedaan idiologi, dan pada akhirnya kita lupa dengan tugas-tugas sebagai mahasiswa.
Jagan Samapi Mahasiswa hari ini hanya di sebut jago kandang tak ubahnya katak dalam tempurung hanya bisa berkoar-koar dibelakang layar namun tidak berani tampil kedepan untuk menjadi sebagai pelopor perubahan.
Selain itu, era globalisasi dengan teknologi yang makin canggih dan membuat dunia makin kecil justru makin mengerdilkan jiwa para aktivis pergerakan mahasiswa. Suara keberanian dan kejujuran mahasiswa yang semula nyaring terdengar, kini seakan-akan hilang bagai ditelan bumi. Nilai tawar mahasiswa yang semula senantiasa menjadi kebanggaan, kini tak lagi ada.
Idealisme sebagai prinsip dasar gerakan mahasiswa seolah-olah tertawan di ruang perkuliahan yang sangat mengekang. Sifat kritis sebagai senjata utama mahasiswa dalam mengupas berbagai isu dan persoalan bangsa, menanggapi berbagai kebijakan pemerintah dari pusat sampai daerah, serta memperjuangkan aspirasi rakyat menumpul dan berkarat. Semua itu menjadi faktor penyebab dari degradasi pikiran keritis di banjiri oleh hedonisme dan kecanduhan terhadap terhegemoni nya palitik paraktis maka dari itu lah gerakan mahasiswa telah mati sebelum berjuang.
pada akhirnya, gerakan mahasiswa yang dulu lebih mengedepankan kepentingan rakyat kecil, saat ini hanya berperan sebatas lingkup internal ,kampus itupun hanya sesekali saja . Tak terasa, yang tampak adalah gerakan mahasiswa mati suri.
Harus kita akui peran mahasiswa sangat penting dalam perjalananan panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari masa ke masa. Gerakan mahasiswa telah membuktikan apa yang mereka lakukan dulunya mampu menumbangkan segala bentuk otoritarianisme penguasa terhadap rakyat.Gerakan mahasiswa merupakan bentuk perjuangan nyata kaum intelektual berdasar tanggung jawab moral sosial mereka kepada rakyat.
Karena itulah degradasi gerakan mahasiswa saat ini harus menjadi perhatian bersama serta disikapi secara arif dan bijaksana.
Perlu dicari akar permasalahan untuk dibuatkan satu solusi cerdas guna membangun kembali semangat gerakan mahasiswa yang mati suri.
Karena, idealnya mahasiswa merupakan golongan intelektual yang memiliki semangat berjuang tinggi.
Mari kita Kembali melakukan refleksi sejarah merupakan salah satu cara untuk mengembalikan semangat gerakan mahasiswa. Sebab, sejarah telah mencatat gerakan mahasiswa dengan idealisme para aktivisnya telah melepaskan diri dari neokolonialisme dan imperialisme Belanda dan numbangkan kediktatoran, Soekarno menggulingkan rezim otoriter Soeharto.
Itu tak lepas dari perjuangan mahasiswa
Refleksi sejarah perjuangan mahasiswa pada zaman dahulu diharapkan memberikan motivasi serta menyadarkan kembali mahasiswa sekarang betapa penting gerakan mahasiswa. Sejarah dapat berperan penting untuk menumbuhkan kembali semangat perjuangan. Ditambah dengan keberhasilan mahasiswa dahulu yang bisa memantik keberanian mahasiswa sekarang untuk mengukir sejarah baru, bukan saja gerakan revormasi yang menjadi catatan akhir untuk menumpaskan kejoliman, dan tercatat sebagai pahlawan di bangsa ini.
Saya mengigat jelas bahwa” Soekarno pernah barkata, setiap jawaman ada manusia dan setiap manusia punya jaman nya”
Maka dari itu merintis kembali Revolusi” gerakan mahasiswa.
Tak kalah penting untuk menghidupkan kembali gerakan mahasiswa, harus ada dukungan dari berbagai pihak. Salah satu dukungan dari internal kampus; rektor dapat membuat kebijakan yang mendukung serta mempermudah pertumbuhan gerakan mahasiswa. Bukan sebaliknya, kebijakan diciptakan untuk menghambat atau mematikan mahasiswa dan gerakan mahasiswa.maka pastikan kita bukanlah manusia yang di sebut merdeka’
Peran serta dukungan masyarakat pun menjadi kunci keberhasilan untuk menyemai kembali pertumbuhan gerakan mahasiswa yang mati suri. Tanpa dukungan masyarakat, tidak mungkin mahasiswa dan gerakan mahasiswa bisa eksis dan aktif. Sebab, gerakan mahasiswa pada dasarnya merupakan gerakan untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Mari kita lepas bendera masing-masing serta almamater kebesaran kampus kita, kita jangan bicara PMII,HMI, KAMMI, IMM,GMNI,dan Organ-organ apapun. Mari kita bersatu padu dibawah bendera kebesaran Aliansi Mahasiswa dengan mengucapkan Sumpah Mahasiswa Indonesia secara bersama-sama serta menyanyikan lagu perjuangan.
Baru kemudian kita membuat perubahan secara bersama-sama pula.
Maksud Saya diatas bukan berarti kemudian mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk melenceng dari mekanisme berorganisasi kawan-kawan Kita sepakati bahwa kita diikat oleh organ yang berbeda. Kita sama-sama memiliki konstitusi AD/ART dan independensi masing-masing. Akan tetapi maksud saya disini taklain adalah bagaimana kita untuk selalu ikut andil dalam menjaga stabilitas kebijakan pemerintah yang ada mulai dari nasional hingga lokal, serta mewujudkan masyarakat adil makmur, menciptakan peradaban baru untuk Indonesia. Bukan saja revormasi yang mulai pudar”
Mari kita wujudkan cita-cita bangsa Indonesia ini melalui gerakan mahasiswa yang terkonsolidasi, proggresif, dinamis dengan melalui agenda kajian-kajian ilmiah/diskusi rutin di organisasi kita masing-masing lalu kemudiann implementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terlepas dari itu saya kembalikan kepada kesadaran kawan-kawan mahasiswa masing-masing, Khususnya kawan mahasiswa yang menempuh pendidikan di manapun ,Tapi ingat bangsa ini bukanlah dalam keadaan baik-baik.
Jangan terninabobokkan oleh keadaan,
Sistem politik hari hingga lupa bahwa tanggung jawab besar seorang mahasiswa mari kita segera berbuat untuk menyelamatkan bangsa ini, Untuk NKRI yang kita cintai dan kita Banggakan ini.
Selanjutnya Beberapa organisasi kepemudaan yang di geliatinya di kabupaten Kepulauan Sula,mulai dari KNPI, pemuda Pancasila, GP Ansor.
Mari kita bersama sama bergerak baik
Jalan,semi politik asalkan berjalan sesuai
Koridor kebenaran. Demi kepentingan masyarakat








