banner 728x90
DaerahHalteng

UPTD Puskesmas Rawat Inap Banemo Sosialisasi Program ‘ToP BersHI’ di Masyarakat

650
×

UPTD Puskesmas Rawat Inap Banemo Sosialisasi Program ‘ToP BersHI’ di Masyarakat

Sebarkan artikel ini

WEDADADIKANUSANTARA.COM UPTD Puskesmas Rawat Inap Banemo mengembangkan salah satu kegiatan inovatif dalam pelayanan kesehatan Masyarakat yaang dikenal dengan nama ToP BersHI (Kitorang Pantau Bersama HIV/AIDS), khususnya dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular seperti HIV AIDS senin, (28/07/2025).

Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan masyarakat yang di skrining, menurunkan angka penularan infeksi dan menurunkan angka kematian ODHA.

banner 728x90

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi adalah Jawa Timur dengan jumlah kasus HIV (2005–2023): 86.947 kasus, jumlah kasus AIDS (2005–2023): 24.776 kasus dan kasus baru AIDS (2023): 2.434 kasus.

Prevalensi HIV di Maluku Utara menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2024, tercatat 670 kasus baru HIV/AIDS di provinsi ini, dengan 436 kasus di antaranya berasal dari tahun 2023.

Program yang diprakarsai dr. Rinaldhy Franatha Sembiring, telah mendapat dukungan dari Bupati Halmahera Tengah, Ir. Ikram Malan Sangadji dan tertuang resmi dalam SK Nomor 445/KEP/170/2024. Program Inovasi ini melibatkan kolaborasi lintas sektoral di Patani Barat, menandakan kepedulian masyarakat akan kesehatan dilingkungannya.

Kepala Puskesmas Banemo, Rusman Djafar, SKM, mengatakan bahwa “ToP BersHI akan menjadi program jangka panjang yang berkelanjutan mengingat bagaimana masa inkubasi virus tersebut yang lama dan banyaknya dukungan dari setiap elemen masyarakat di kecamatan Patani Barat.”Pungkasnya

Selain itu di era modern ini, dunia telah menciptakan berbagai terobosan medis, dari teknologi pencitraan hingga terapi genetik. Namun, satu tantangan lama yang masih membayangi adalah HIV/AIDS. Meski sudah lebih dari empat dekade sejak kasus pertama ditemukan, virus ini belum benar-benar hilang dari wajah bumi. Bukan karena tidak ada obat yang bisa mengendalikan penyakit ini, tetapi karena kita masih menghadapi tantangan yang lebih besar: stigma, diskriminasi, dan kurangnya edukasi.

Memahami HIV dan AIDS Secara Medis
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4, yang berperan dalam melawan infeksi. Tanpa pengobatan, HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), kondisi di mana kekebalan tubuh seseorang sangat lemah sehingga mudah terserang berbagai infeksi oportunistik bahkan kanker.

Stigma: Musuh Tak Kasat Mata
Sayangnya, tantangan terbesar bukan lagi virus itu sendiri, melainkan sikap masyarakat. Banyak ODHA kehilangan kesempatan bekerja, dijauhi keluarga, bahkan ditolak di fasilitas pelayanan kesehatan karena status HIV mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat masih terbatas.

Padahal, HIV tidak menular melalui sentuhan, air liur, pelukan, atau penggunaan toilet bersama. Penularan hanya terjadi melalui tiga jalur utama: hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik yang tidak steril (termasuk pada pengguna narkotika suntik), dan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui jika tidak ditangani secara medis.

Stigma semacam ini membuat banyak orang enggan memeriksakan diri. Mereka takut “dicap” sebelum sempat mendapatkan bantuan. Padahal, semakin dini seseorang mengetahui status HIV-nya, semakin besar peluang untuk hidup sehat.

Pentingnya Edukasi dan Deteksi Dini
Pemeriksaan HIV kini semakin mudah, cepat, dan bersifat rahasia. Program “tes dan obati” yang didorong oleh Kementerian Kesehatan RI bertujuan agar semua yang terinfeksi HIV segera mendapatkan terapi ARV sejak awal. Dengan terapi yang tepat dan dukungan psikososial yang memadai, seorang ODHA bisa menikah, punya anak yang sehat, dan hidup tanpa komplikasi berarti.

Edukasi juga perlu diperluas ke semua lapisan masyarakat, termasuk remaja dan pelajar. Mereka adalah generasi yang tumbuh dalam era digital, penuh informasi tapi juga rentan terhadap misinformasi. Menyampaikan fakta medis secara terbuka, tanpa menghakimi, adalah langkah pertama menuju masyarakat yang lebih peduli dan inklusif.

Menuju Generasi Bebas Stigma
Kita tidak sedang berperang melawan virus semata, tetapi juga terhadap ketakutan, kebodohan, dan sikap eksklusif. Sudah saatnya kita membangun masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan dan empati. Jangan biarkan orang hidup dalam ketakutan karena status medisnya. Kita harus bergerak bersama pemerintah, tenaga kesehatan, media, tokoh agama, dan masyarakat umum untuk menciptakan ruang aman bagi semua orang. (Tomi/ilo)

banner 728x90
banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90