SANANA, DADIKANUSANTARA.COM- Potret buruk kepolisian kini kembali terlihat di Bima Nusa Tenggara Barat. Polisi yang membubarkan masa aksi secara paksa dengan unsur kekerasan itu kini menjadi amarah seluruh mahasiswa dan aktivis tak terkecuali di Kepulauan Sula Maluku Utara.
Presiden BEM STAI Babussalam Sula Maluku Utara Jisman Leko mengecam tindakan represif kepolisian dalam menjalankan tugas sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.
“Kejahatan ini harus ada perhatian khusus dari semua elemen, karena perbuatan anggota Polisi itu sangat mengancam keselamatan UU 1945 pada pasal 28F yang mengatur tentang kebebasan menyampaikan pendapat di depan umum, maka peristiwa ini tidak boleh dibiarkan,” kata Jisman melalui via whatsapp, minggu, (21/4/2024)
Jisman menjelaskan, aksi masa yang merespon informasi terkait anjloknya harga jagung itu juga ada keterlibatan mahasis yang didalamnya ada presiden BEM Taman Siswa Bima dan kawan-kawan pengurus.
“Selain masyarakat, ada juga mahasiswa yang melibatkan diri dalam aksi dan dihajar polisi, ” tambah Jisman.
Jisman bahkan mengungkapkan kehuatirannya akan nasib gerakan masa di bumi Indonesia ini jika kekuasan Prabowo ini akan menganut gaya Soeharto memimpin yaitu tak adanya gerakan masa karena aparat keamanan selalu represif.
“Kami huatir jika ini dibiarkan dan rakyat tidak dapat keadilan atas perlakuan aparat keamanan (polisi), maka gaya kepimpiinan Soeharto bisa jadi sudah mulai dipraktekkan kembali pemerintah,” tutup Jisman. (ilo)










