Oleh : Ilham Usia
Dadika Nusantara.com – Semua umat muslim di atas bumi Allah ini selalu mengimpikan bisa Wukuf di Arafah dan bersujud di depan Baitollah, dan akan tersenyum bahagia jika impian itu bisa jadi kenyataan. Namun bagaimana dengan Sosok perempuan muda yang satu ini.
Nurhani Umamit, yang kesehariannya sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan pemda Kepsul itu dituntut harus mampu menyatukan dua rasa dalam sebuah kenyataan kehidupan.
Mungkin banyak anak-anak yang menggantikan orang tuanya memenuhi panggilan haji, namun tidak juga banyak anak yang bernasib sama dengan ibu dari 4 orang anak ini.
Yang ada dalam kepalanya, tahun ini ibu dan ayahnya akan bersanding bah pengantin dalam acara pembacaan amal haji untuk menunaikan panggilan haji 1446 H / 2025 M ini. Namun harapan itu belum juga jadi kenyataan, ibunda kesayangannya harus pergi lebih dulu menghadap sang khalik Allah SWT saat acara pembacaan amal hanya tinggal hitung hari.
Isak tangis dan kesedihan yang menyelimutinya bersama keluarga, tak bisa menjadi alasan untuk membatalkan niat suci kedua orang tuanya itu. Belum juga kering air mata yang mengalir deras di pipinya, Nurhani diberikan lagi sebuah amanah oleh keluarga untuk menggantikan ibundanya Alm. Nurjana Leatemia. Ia dituntut untuk harus mendampingi sang ayah agar tak sendiri menapaki tanah para nabi di kota suci Makkahtul Mukarramah Madinatul Munawwarah.
Labbaik Allahhumma Labbaik, kalimat seruan untuk menjawab panggilan Allah inipun tak bisa dibendung dari mulut sosok perempuan yang juga dikenal penyabar itu.
Bayang-bayang wajah sang ibunda masih tak hekang dari wajahnya, kemanapun berpaling, sebagai perempuan tertua dalam keluarganya, Nurhani memiliki karakter yang jauh beda dengan saudara-saudaranya.
Tiga hari yang lalu, ia dan keluarganya baru menyelesaikan tahlilan hari ke9 untuk ibundanya, kini mereka juga harus menyiapkan segala hal untuk pembacaan amal haji. Dua keadaan yang tidak bisa dipisahkan ini sungguh menuntut keluarganya untuk tetap tegar menghadapi kenyataan.
Namun bagaimana dengan dirinya, haruskah sedih karena tak bisa melihat sang ibu menunaikan panggilan haji bersama ayahnya, ataukah bahagia karena berkesempatan memenuhi panggilan Allah dalam seruan haji tahun 2025 ini …?
Mari kita doakan, semoga Allah SWT mudahkan urusannya dan urusan ayahandanya dalam menunaikan ibadah haji 2025 ini, dan semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan dosa almarhum ibundanya semasa hidup, serta menerima segala amal baik ibundanya sebagai pahala di sisi Allah SWT.
“Ibu kepergian mu tidak hanya meninggalkan sedih dan rasa kehilangan yang luar biasa di hati ini, namun sembari kau tinggalkan tanggung jawab besar di atas pundak anakmu ini. Ibu seharusnya aku bahagia jika bisa menjadi tamu Allah di tanah suci, namun menggantikanmu melaksanakan wukuf di Arafah tidak pernah aku harapkan, hal ini membuatku merasa sedih tak ada duanya. Harusnya ibu dan ayah lagi yang bersama -sama gelar Tauwaf tahun ini, bukan aku.
Ibu, karena aku tak tega melihat ayah melangka sendiri menuju kota Mekah, maka izinkanlah aku menemani ayah menggantikan ibu. Dulu saat umroh, mungkin saja ibu dan ayah punya cerita menarik yang disimpan dari kami anak-anak, berharap hari-hari itu bisa terulang di musim haji tahun 2025 ini, namun takdir Allah di atas segalanya, aku ikhlas tapi aku rindu ibu, sekali lagi Ijinkan putrimu ini mengucap Labbaik Allahumma Labbaik,”
(Ilo)








